Saturday, November 1, 2014

Air Tuba Di Balas Dengan Air Susu

Seringnya orang mengalami seperti pepatah ini “ air susu dibalas dengan air tuba” namun berbeda dengan yang aku alami sebaliknya“air tuba di balas dengan susu” Perlakuan jahat dan kasarku pada suami justru di balasnya dengan kebaikan-kebaikan dan cinta.

Semoga kisahku ini bisa dijadikan pelajaran buat pembaca bahwa tidak selamanya pernikahan dini membuat rumah tangga tidak bahagia, tergantung dari kita bagaimana kita memberikan variasi yang indah dalam kehidupan rumah tangga kita. Seperti suamiku yang telah memberikan variasi kehidupan rumah tanggaku yang indah hingga aku tak ingin jauh-jauh darinya.

“Katakanlah aku bukan ibu yang baik. Aku tak mengharapkan kelahiran anakku. Aku membenci sebuah kehamilan dan aku benci pada suamiku sendiri. Aku sangat membencinya karena dia penyebab semuanya, Ya semua gara-gara dia.

Aku menikah diusia yang sangat muda, 14 tahun. Tetapnya setelah tamat Sekolah Dasar. Tapi di desaku yang berada di kaki pegunungan, berkapur, hal seperti ini tak memiliki ke anehan, sudah biasa. Surat-surat untuk KUA, semuanya bisa dirubah. Usia 14 tahun dengan sendirinya akan menjadi 17 tahun, entah dari mana tambahan waktu hidup yang tiga tahun itu berasal. Satu hal yang kurang aku mengerti, entah mengapa orang tuaku bangga dengan menikahkan anak gadisnya diusia muda, dan tentunya banyak yang seolah-olah menangung aib jika anak gadisnya dewasa tapi belum menikah juga.

Aku menyebutnya kecelakaan. Ketika dengan tiba-tiba aku menyadari ada yang berubah pada diriku. Tiga bulan setelah pernikahan aku mengalami menstruasi yang pertama. Aku takut sekali tapi simbok dan mbakyuku menjelaskan semuanya. Mereka tahu, karena sudah mengalaminya. Tapi tak seorangpun tahu, selama tiga bulan menikah aku tak pernah tidur seranjang dengan lelaki yang notabenenya sudah menjadi suamiku. Jika ia ingin tidur diranjang maka segera aku mengelar tikar ditanah ( waktu itu lantai kami tanah biasa) Akhirnya suamiku mengalah, dia belaku sangat baik. Dia mengerti istrinya memiliki banyak kekurangan, banyak hal yang tak bisa aku lakukan. Bahkan aku sering melukai dia, menyakiti dia baik dari kata-kataku walau sesekali terlontar untuknya. Mirip anak kecil yang berucap tanpa beban dosa. Tapi mengapa kecelakaan itu terjadi?

Satu hal yang aku takuti, kepercayaan penduduk tentang banyaknya gendruwo berkeliaran didesaku, menghuni setiap rumah kosong. Dan kebetulan rumah kami memiliki gudang kosong. Gudang itu ada dibelakang rumah, hanya digunakan untuk menumpuk padi, itu pun akan di gunakan setahun sekali karena daerah kami daerah tandus dan berkapur, panen padi akan mengalami musim setahun sekali. Begitulah, aku juga percaya bahwa gudang itu dihuni oleh gendruwo.

Masih tiga bulan setelah pernikahanku, musim kemarau berganti hujan tiada henti. Dan musim panen belum di mulai, gudang itu sepi tak berisi, mati, dihuni gendruwo lagi.  Itu bulan November ketika, pakdhe (kakangnya simbok) yang tinggal di kota lain mengadakan hajatan, dan semua keluarga menghadiri hajatan, tak terkecuali aku dan suamiku. Hanya saja hari itu ayah dan ibuku tak mengijinkan aku menginap bersama mereka dirumah pakdhe. Mereka menyuruh suamiku membawa pulang. Suamiku memiliki sepeda motor ( BINTER, GTO Kawasaki demikian aku membaca tulisan di tubuh motor itu)

“Kalau nanti jalanan licin ya pengangan pada kang mas-mu, atau ya sekalian jatuh berdua, biar cepat rukun.” Begitu pesan simbok, matanya mengerling kecil sambil tersenyum ketika menghantar kami. “Ih, siapa yang mau jatuh bersamanya?” Sejak semula aku terima saja membonceng dibelakang tubuh suamiku, tapi aku tak pernah mau berpegangan dengan tubuhnya. Bagiku lebih baik jatuh dari pada menyerah padanya. Dan rupanya hal itu tak luput dari perhatian emak. Tapi, biar saja.

Hari itu perjalanan sangat menyebalkan. Setelah melewati Bangawan Sapen, Bengawan terbesar yang ada di daerahku, dengan perahu kecil ( sampan ). Kami sampai di wilayah pinggiran Kertosono. Daerah bebatuan  menuju desaku sangat licin dan sesekali sepeda motor itu hampir terperosot kesamping  jalan yang kebanyakan berparit dan selokan . Sampailah kami di wilayah Ndenanyar desa terpenjil di Wilayah kecamatan Tangen, Kabupaten Sragen. Sebentar lagi melewati pinggiran wialayah Kemukus, daerah angker, namun ini satu-satunya jalan pintas yang bisa di tempuh antara desaku dan desa pakdhe. Jalur lain, harus menempuh perjalanan kurang lebih 2 jam dan sampai dirumah pasti sudah malam.

Sepanjang jalan tak seorangpun aku temui, hanya pohon jati dan sengon yang tumbuh berjajar, daun-daunya belum tumbuh setelah musim kemarau, semua itu membuat suasana makin menakutkan. Bulu-bulu ditubuhku berdiri, bahkan darahku berdesir aneh. Konon banyak orang yang bertemu memedi di jalan ini.

Seolah tahu apa yang tengah aku rasakan suamiku berusaha menenangkan, “ Jangan takut. Aku bersamamu,” dia memang baik tapi hal itu tak cukup untuk menaklukkan hatiku. Kata teman-teman laki-laki memang pandai menipu. Aku tak akan terkecoh.
“Siapa bilang aku takut? Sedikit kedinginan kan biasa, habis hujan khan dingin.” Sekenanya saja aku berucap. Dia hanya ketawa. Seperti mengejekku, tapi aku tak peduli

Beberapa saat lagi kami akan melewati tempat keramat itu, Puthogoro, sebuah kuburan tua. Hanya terdapat dua makam disana, katanya sepasang manusia yang bunuh diri dan mayatnya dikubur ditempat itu juga. Inilah wilayang angker itu. Aku harus menutup mata, jangan sampai melihat tempat keramat itu. Dengan menutup mata ternyata motor seperti berjalan lebih cepat, geronjal-geronjal jalan berbatu itu seolah menghalus. Tapi beberapa menit kemudian aku rasakan ada yang lain. Sepeda motor itu berhenti. Suaranya berderum-derum. Ada yang lain dari tubuhku, rasa perih, rasa sakit. Kakiku. Haruskah kubuka mata?

Kulihat suamiku bersusah payah mengangkat sepeda motornya dari selokan. Kami sudah memasuki desa Kemukus, tadi ada tikungan dan kami harus melewati jembatan kecil dari anyaman bambu yang mungkin menjadi sangat licin karena sisa-sisa hujan. Aku ingin ketawa lihat baju dan celana suamiku yang kotor belepotan. Tapi ternyata aku hanya mampu meringis, keadaanku tidak lebih baik, selain lecet-lecet sepertinya kaki kiriku kesleo.

Ketika suamiku berhasil membawa sepedanya kejalan, aku masih tak beranjak dari selokan. Sandalku menjadi tinggi oleh  tanah lempung basah yang menempel dan sulit di angkat. Aku hanya menangis, tak berani mengatakan yang kakiku sulit di gerakkan.
“Maafkan aku” Tangannya terulur tapi aku malu menyambutnya. Hanya sampai disinilah benteng pertahananku. Tidak. Aku tetap diam. Kaki kanan yang tidak sakit aku jejak-jejakkan. Kesal.
“Kita harus segera tiba dirumah, dhik. Tidak mungkin bermalam ditempat ini. Kalau mau mengamuk nanti dirumah saja, ya? Kalau pingin memukulku, tahanlah dulu. Ayo!” Uluran tangannya masih belum aku terima. Dadaku nyeri dan tangisku pecah. Aku tak tahu sebenarnya apa yang aku inginkan saat itu.
“Kakiku sakit sekali”, hanya itu yang bisa aku katakana. Dan dalam hitungan jari tangan, dia telah mengangkat tubuhku. Menyandarkannya pada sepeda, aku tak yakin apakah dia memijat kakiku atau hal lain yang dilakukannya, rasa sakit itu berkurang. Kami lanjutkan perjalanan tanpa satupun pembicaraan lagi.

Aku masih diam. Ketika suamiku menyibukkan diri memasak air. Tidak ada kompor dirumah kami. Dan untuk membuat perapian di tungku dapur itu tidak mudah. Aku paling benci pekerjaan itu. Tapi sepertinya tidak begitu bagi suamiku. Mengapa dia tidak kikuk dengan pekerjaan wanita seperti itu. Apalagi ini kan rumah orang tuaku. (Aku tidak mau ketika akan di boyong ke rumah mertua, katanya tinggal bersama mertua itu menakutkan) Terserah apapun yang akan dia lakukan. Aku nanti hanya berminat membasuh tubuh dengan air lalu istirahat. Hujan deras diluar, dan aku tak ingin mandi , dingin sekali.
“Mandi dulu. Air hangatnya sudah aku siapkan di Jeding.” Dia sudah  muncul dengan baju yang bersih, aku yakin seluruh tubuhnya pasti sudah dibersihkan. Apalagi dia sudah memakai peci, bersiap sholat maghrib. Kuharap hujan diluar, akan menghalangi dia pergi kemasjid. Entah kenapa kali ini aku berdoa agar dia tidak pergi seperti biasanya. Aku takut sendirian. Ketika aku keluar kudapati dia masih menekuri sajadahnya di kamar. Aku jadi rikuh. Tapi kemudian dia mengulurkan rukuhku lalu kami sholat berjamaah untuk pertama kalinya.

Teve hitam putih kami masih menayangkan program Laporan Khusus setelah Dunia Dalam Berita. Lelaki itu, suamiku dia suka mengikuti perkembangan berita. Aku sudah mendekam di dalam kamar. Kupikir dia akan tidur diluar malam ini. Entahlah, mengapa aku berharap dia masuk kamar. Aku malah mengelar tikar untuknya. Aku takut gendruwo itu akan mengangguku. Lama aku menunggu, dia tak juga masuk. Apakah dia tidak tahu, aku ketakutan setengah mati. Akhirnya aku tengkurap sambil menutup tubuhku dengan selimut lorek . Kudekap rapat bantal  dikepala. Amankah?

Ihh ! Sebel. Aku tetap tak bisa tidur bahkan plepeken. Diluar sudah sepi. Suamiku sudah tidur. Gelap. Kupasang pendengaranku. Hanya gerakanku sendiri yang kadang membuat gesekan. Tapi.. coba dengar lebih jelas. Seperti ada bunyi kelereng di permainkan orang. Aku sering mendengar bunyi itu dan biasanya aku akan segera berlari ke kamar emak. Ku tutup telinggaku rapat-rapat. Dan aku paksakan mataku untuk terpejam.
“Aa…” aku menjerit sekeras-kerasnya. Dan lampu dikamar segera menyala. Apakah getar suaraku secara otomatis bisa menyalakan listrik?

Suamiku ternyata tidur di bawah. Tanpa kutahan, aku menangis sejadi-jadinya. Kubiarkan saja saat dia mendekat, aku memukulnya. Dia diam saja bahkan membiarkan aku memeluknya. Aku takut. Dan aku butuh seseorang. Mungkin dengan keberadaannya disisiku itu akan lebih menenangkan.

Setelah kejadian semalam itupun tak ada yang berubah. Aku tak membutuhkannya pada saat-saat begini. Tapi dia tetap baik. Dia masih betah dirumah kami. Emak, Bapak dan mbakyu sering memarahiku. Aku tak pernah bersedia mempersiapkan apapun kebutuhannya. Enak saja. Emang dia siapa? Toh dia bisa menyiapkan semuanya sendiri.

Sampai suatu hari aku sakit. Akhir-akhir ini aku sering masuk angin dan muntah. Bidan mengatakan aku hamil, tapi bagaimana mungkin? Hal itu tak boleh terjadi. Aku tak mau hamil. Aku tak ingin punya anak. Apa kata teman-temanku nanti?
Ohya, meskipun aku sudah menikah, aku masih sering bermain dengan teman-teman, main kelereng, main karet, main sarukan, petak umpet dan lintang ngaleh. Hamil akan menganggu aktifitasku. Aku tak mau. Karenanya aku ngamuk-ngamuk setiap kali emak mengatakan aku hamil dan harus berhati-hati. Kalaupun benar aku hamil, ya malah aku sengaja bergerak bebas. Kadang aku main kasti, kadang juga memanjat pohon asem bersama teman-teman. Terus terang saja kebanyakkan temanku usianya jauh dibawahku, yang sebaya denganku sudah menikah atau harus membantu orang tua mereka disawah atau mengerjakan pekerjaan rumah lainnya. Begitulah kehidupan didesaku ini, kehidupan yang sebenarnya kurang aku suka. Wanita harus mengalah. Tugasnya hanya seputar sumur, dapur dan tugasnya hanya memasak dan ah aku tak ingin menyia-nyiakan hidupku dengan berkutat pada kebiasaan itu.

Tapi, apa yang bisa aku lakukan saat ini? Teman-temanku sendiri mengatakan aku hamil dan tak boleh memanjat pohon asem. Malah mereka mengumpulkan hasil panjatan mereka lalu diberikan padaku. Katanya aku pasti ingin makan yang asem-asem. Teman-temanku bahkan sering mengajakku rujakan. Aku terima, bahkan enjoy saja. Hanya satu hal, mereka tak boleh mengatakan aku hamil. Aku benci itu.

Suatu hari dirumahku diadakan upacara selamatan. Kali ini aku tak bisa menolak. Tingkeban, begitu  banyak ritual yang harus dijalani. Tapi semua tak menarik bagiku. Aku tak bisa menceritakannya, tidak mengingatnya. Hanya membuatku semakin benci pada suamiku. Semua itu gara-gara dia. Juga aku benci baju-bajuku mulai banyak yang tak cukup. Aku harus terima ketika Emak dan Mbakyuku membujuk pakai daster. Nyatanya baju kombor itu lebih enak dipakai. Dan dengan baju seperti itu aku menjadi malu keluar rumah. Setiap malam atau kapanpun aku ketemu suamiku aku ngamuk. Kadang aku memukulnya. Dia tak pernah melawan, bahkan sepertinya menyerahkan dirinya untuk kupukuli. Yang lebih menyebalkan suatu kali dia berkata setengah mengejek, “ Ya…, istriku bisanya memukul, jadi aku anggap pukulannya sebagai pijatan.”

Kebencianku padanya tak mungkin bisa aku sembunyikan. Sekarang keadaanku semakin memburuk. Aku tak bebas bergerak. Sering aku ingin memukul perutku sendiri, kadang suamiku ketawa-ketawa melihatnya. Iih ! Sebel. Kalau sudah begitu maka aku akan memukul tubuhnya. Satu hal kadang yang aku suka dari dia, ia sangat sabar banget. Kalau saja ada yang memperlakukan aku demikian, apa yang akan kulakukan? Namun sekali lagi ini semua gara-gara dia. Sekarang aku benar-benar terhukum. Duduk tidak enak. Berdiri cepat capek. Tidur tidak nyenyak tapi makan kok selalu enak. “ Kalau anak ini lahir, aku mau bebas. Kamu sendiri yang merawatnya.” Sering kali aku katakan itu, dan dia pasti mengangguk mantap. Pasti tersenyum dan wajahnya berseri, bahagia. Apa enak merawat bayi?

Setiap kali dia mengajakku ke rumah orang tuanya aku menolak. Padahal, selama ini aku terima saja setiap minggu sekali dia mengajakku kesana. Biasanya kami menginap, keesokan harinya orang tuanya akan sibuk mencari oleh-oleh untukku bawa pulang. Dia berasal dari keluarga berada. Selalu saja ada yang diberikan oleh mertuaku . Dari kalung , gelang, cincin, baju-baju yang bagus sampai makanan atu buah-buahan. Tapi aku tak pernah memakainya. Sampai dirumah aku berikan Emak jika itu dimakanan, jika barang aku menyuruh suamiku menyimpannya dengan alasan karena aku pelupa. Jika aku menyimpan aku  tak tahu aku taruh dimana tadi. Kadang mertuaku memberiku uang, untuk yang satu ini kadang aku ingin mengunakkannya, tapi pada akhirnya aku menyerahkan kembali kepada suamiku. Katanya jika aku butuh sesuatu aku tinggal minta padanya. Tapi untuk apa? Toh aku masih bisa meminta pada orang tuaku sendiri. GR amat, sebenarnya aku tak butuh dia disini.

Puncak dari semua itu adalah ketika aku hendak melahirkan. Sehari penuh aku merasakan sakitnya. Dari rasa mulas, keluar keringat dingin dan keringat panas. Seperti ingin kebelakang. Seperti hendak buang hajat, tapi semuanya hanya rasa yang bukan sebenarnya. Karena rasa sakit itu tak bisa dirasakan.

Semula hanya, mbah Kariyem, dukun bayi desa kami yang di panggil. Tapi karena keluhanku yang teramat, aku menjerit-jerit dan seisi rumah kebingungan. Akhirnya di panggil juga bidan Wiwik  dari kecamatan. Usai Dzuhur katanya air ketuban bisa pecah, entah apa itu maksudnya, waktu itu aku tak bisa memahami tapi sampai maqrib tiba, aku belum juga bisa melahirkan. Mungkin karena kelelahan aku ingin tidur. Tapi setiap mataku hendak terpejam, pasti bidan Wiwik membangunkan aku. Lihatlah betapa suami dan bayi dirahimku meyiksaku. Untuk tidur saja aku diatur.

“Jangan tidur, pintu mulai terbuka.” Entah apa pula yang dimaksud pintu terbuka itu. Dihitung pula yang satu pintu, dua, tiga dan sekarang entah sudah mencapai pintu yang keberapa. Rasanya perutku, bagian di bawah pusar. Berputar-putar. Ohh !

Kemudian bidan Wiwik memanggil suamiku. Menyuruhnya menungguiku. Memangku kepalaku. Sebenarnya aku ingin menolaknya. Tadipun aku menolak ketika dia masuk. Aku tak ingin melihatnya. Aku benci dia, semua gara-gara dia. Rasa sakit ini, aku ingin berteriak-teriak memaki-makinya. Aku ngak betah. Ketika bidan itu memberi peringatan untuk mengejan, maka ku gigit kuat-kuat tangannya.Agar dia tahu betapa tersiksanya aku karena perbuatannya. Tapi aku tak bisa berbuat apa-apa. Aku benar-benar kelelahan maka aku sandarkan saja kepalaku di pahanya. Dan saat itu air matanya jatuh diwajahku.Aku melihat lelaki yang selama ini selalu tersenyum itu kini menangis.

Aku sendiri tidak tahu dengan perasaanku yang tiba-tiba terenyuh. Mungkin gigitanku menyakitkannya. Maka sedikit kuelus tangannya yang pasti telah nge-cap gigi-gigiku, mungkin mataku memelas, mohon maaf. Dan untuk pertama kali dia mengusap rambutku. Hidungnya kembang-kempis. Lelaki menangis kan tidak lucu banget. Iihh ! Aku benci suasana yang demikian. Jadi ikut nangis. Untung bidan Wiwik memberi perintah lagi. Apa yang akan terjadi padaku?

“Menjeritlah dhik. Pukullah. Gigilah, jika itu membuatmu merasa lebih baik.” Suara itu juga pengangannya di tanganku seperti mengalirkan kekuatan. Aku merasa lebih nyaman dan selang beberapa menit … terdengar jerit bayi.
“Alhamdulillah..” suara itu aku dengar dari mulut suamiku. Masih aku rasakan air matanya yang menetes. Kemudian dia meletakkan bantal sebagai sandaran kepalaku. Dan aku dengar suaranya saat melantunkan adzan. Ada yang begetar didada, entah rasa apa.

Ploongg ! yang ada adalah sejuta kelegaan. Rasanya beban yang aku tangung berbulan-bulan, kini telah kulepaskan. Tubuhku ringan melayang. Tanpa beban, tanpa tanggungan. Tapi kenapa aku lelah sekali? Aku ingin tidur.

Sebenarnya aku ingin berdekatan dengan bayiku. Tapi aku malu untuk mengutarakannya. Setiap saat selalu ada sanak family, tetangga dan teman-teman yang ingin melihat bayiku, memujinya, mengangumi sebagai bayi yang cantik. Muqhiat Sholikhah, indah sekali terdengar namanya. Suamiku pandai memilih. Aku iri setiap kali bayiku di gendong dan diayun. Bukankah aku yang melahirkannya, Tetapi lelaki itu ingin mengusainya. Dia tidak pernah kesawah atau kepasar lagi, 24 jam waktunya di berikan untuk si bayi. Dari yang membuatkan susu, mencuci botol, menyetrikannya. Menganti popok, mencuci semua pakaian bayi (termasuk pakaianku) dan merebus air sebelum mbah Kariyem datang memandikannya. Mbah Kariyem memandikan bayiku hanya sampai usia 10 hari. Sesudahnya Emak yang mengantikannya, jika Emak berhalangan suamiku  yang berugas siap mengantikan tugas itu.

Lelaki yang sangat baik, kadang ia seperti bisa membaca keinginanku. Usai memandikan bayi, ia sengaja memberikan padaku. Itulah saat yang indah. Tengah malam bayiku jarang menangis, diapun bayi yang sangat baik. Kalau ada tangisannya berarti dia ngompol, haus/ lapar. Biasanya aku ikut terjaga. Pernah suamiku membujukku untuk menyusui, sebenarnya sering kali itu dia lakukan, juga ibuku juga semua orang yang datang. Aku sering menolak, aku merasa tak bisa menyusui dan malam itu dia memintaku lagi.
“Coba dhik, anak kita akan lebih sehat dengannya”

Dia membimbingku, sebenarnya aku malu. Aku merasa nyaman, dia duduk di sampingku, menata posisiku, juga bayiku. Saat aku mulai menyusui, dia merengkuhku, hangat. Aku menyukai saat-saat itu. Seperti aku banyak berhutang budi padanya. Aku merasa banyak menyakitinya, dan banyak menerima bantuannya. Hey, rasa macam apa ini?

Tapi malang , air susuku tak bisa keluar. Mungkin karena tak dibiasakan. Salahku sendiri, awalanya aku menolak mengeluarkannya. Aku tahan saja. Malu aku jika harus menyusui. Dan sekarang, ketika aku ingin melakukannya, kenapa tak bisa?

Bayiku sakit. Sudah sejak pagi dia rewel. Badannya panas sekali. Suamiku pergi setelah memandikannya. Bapak dan Emak sibuk disawah atau entah di tegalan. Bagaimana ini? Mereka hanya meninggalkanku dan bayiku. Apa yang bisa aku lakukan? Aku sudah buatkan susu takarannya, sesuai anjuran suamiku, tapi bayiku tak meminumnya. Aku kompres dahinya dengan handuk, tapi itu tak banyak membantu. Akhirnya aku hanya bisa menangis dan bahkan mendekap erat tubuhnya yang aku selimuti rapat. Kupanggil-panggil nama suamiku, Emak, Bapak bahkan tetangga-tetanggaku. Tapi aku tak bisa mengendongnya keluar rumah dalam keadaan seperti itu.

Setelah tersiksa berjam-jam suamiku kembali. Kuceritakan semuanya. Ini pertama kali kulihat wajahnya memerah, dia segera merebut bayi Muqhiat dan melepas krete-nya, hanya pakaian tipis yang tertinggal. Kemudian dia menyuruhku mengendong bayi itu dan menutupnya dengan selimut. Kami harus membawanya kebidan Wiwik.

Tidak hanya di puskesmas. Bayiku mengalami gangguan kesehatan yang lebih parah. Gejala step. Kami harus membawanya keRSU Sragen, untuk mendapatkan perawatan yang lebih baik. Persedian di Puskesmas mungkin kurang memadai. Untuk pertama kalinya aku merasakan cemas yang teramat, aku tak ingin kehilangan bayiku. Aku rela mengantikannya dengan posisi ini, biarlah aku yang sakit, Tuhan. Dia masih sangat kecil, usianya belum genap tiga bulan. Jangan siksa dia dengan rasa sakit seperti ini. Siksalah aku.

Bayiku segera diterima oleh seorang suster. Kami dilarang mengikuti. Bagaimana bisa? Bukankah kami orang tua Muqhiat? Aku menjerit-jerit tidak rela dan suamiku menenangkan. Kata dokter, akan melakukan yang terbaik untuk putri kami. Ya, putri kami. Pertama kali dia menyebut Muqhiat sebagai putri kami. Biasanya ia mengatakan anakku atau anakmu. Tanpa sadar aku memeluknya. Aku membutuhkan seseorang pada saat-saat seperti ini.

Entah dua atau tiga jam menunggu diluar. Dan bagiku itu waktu terasa menahun. Bayi kami di bawa keluar. Tapi kami belum boleh mengendongnya. Bayi kami di gendhong seorang suster. Mereka memerintahkan banyak hal yang kami lakukan. Bayiku harus di opname untuk beberapa hari. Aku harus menunggu dirumah sakit, suamiku harus pulang untuk beberapa kepentingan. Tapi apa yang bisa aku lakukan tanpa suamiku. Aku menyesal. Sangat menyesali kebodohanku selama ini. Ibu macam apa aku ini? Maafkan aku nduk, Muqhiat. Aku tak bisa menjadi ibu yang baik bagimu. Kalau saja aku bisa, tak mungkin engkau mengalami penderitaan seperti ini. Diusiamu yang masih dua bulan setengah, engkau harus berada dirumah sakit. Berperang mempertahankan hidup.

Hanya aku sendiri yang boleh tinggal di kamar menunggu bayiku. Suamiku hanya masuk pada waktu tertentu. Aku benci kenapa harus begini, aku merasa sangat bergantung padanya. Aku tak bisa berbuat banyak tanpa dia. Jika bayiku menangis atau rewel aku harus mencarinya.

Pada pagi hari, antara jam 9 hingga 10 dokter datang memeriksa bayiku. Ada suster bersamanya. Memberinya jarum suntikan. Pasti bayiku akan disuntik, bagaimana ini? Apakah dia bisa menahan sakitnya? Aku masih bisa merasakan betapa sakitnya jarum itu menusuk kulit dan,… oh tidak. Mereka tak boleh menyakiti bayiku lagi.

Tapi terlambat, aku tak bisa berbuat apa-apa dan jarum itu memang menembus kulit mulus Muqhiat. Bayiku tak bisa menangis. Pada saat disuntik wajahnya memerah, merah kebiruan yang membuatku ketakutan. Pasti dia sedang mati-matian menahan sakit. Sakit yang teramat, aku tak tahan melihatnya dalam keadaan seperti ini. Kalau saja aku bisa mengantikan posisinya. Aku rela disuntik meski seumur-umur  aku ingat hanya dua kali disuntik, rasanya tak terlupakan. Setengah mati.

Setelah jarum itu di cabut dari kulitnya, baru dia menangis, menjerit sekeras-kerasnya. Jerit yang membuat hatiku tersayat-sayat. Kemudian jeritannya mereda, perlahan wajahnya kembali memerah, memerah yang tak bisa aku katakan, tapi membuat hatiku lebih tenang. Ingin rasanya aku memukuli dokter itu. Dokter yang menyiksa bayiku. Namun aku tak bisa berbuat banyak. Kuceritakan semua pada suamiku. Sebaiknya pindah kerumah sakit lain. Atau mencari pengobatan yang lain. Pokoknya tidak dengan disuntik.

Setelah dua hari, ibu mertuaku mengantikan tugasku menunggui Muqhiat. Katanya aku terlalu lelah. Tidak, aku tak ijinkan dokter dan suster itu terus menyiksa anakku. Tapi dokter berjanji tidak akan menyuntiknya lagi. Aku sedikit tenang. Tapi baru aku sampai ditempat pakir aku mendengar jeritan. Dan aku yakin itu jeritan Muqhiat, bayiku. Dokter itu berbohong.

“Semua demi kebaikan putri kita dhik. Bersabarlah” Begitu suamiku selalu menenangkan. Dan aku hanya bisa menangis. Bagaimana harus aku jelaskan dokter itu tidak hanya menyuntik dan menyakiti Muqhiat, aku lebih tersiksa karenanya. Tapi memang orang lain tak mungkin mengerti perasaan ini.

Tak terasa seminggu sudah aku disini. Dokter sudah tidak menyuntik bayiku, tapi kami masih belum diijinkan pulang. Rumah sakit ini membuatku belajar banyak, Bagaimana semestinya menjadi seorang ibu. Disana aku banyak mengenal ibu-ibu yang berpengalaman, yang mengajari banyak hal. Suamiku tersenyum-senyum setiap kali ada ibu yang menasehati aku. Biasanya itu terjadi kalau ada kejanggalan yang aku lakukan. Aku malu. Tapi dalam hati aku berjanji, akan menjadi ibu yang terbaik untuk menebus rasa malu ini. Agar suamiku bisa lagi tersenyum. Senyum yang sepertinya mengejek. Lihat saja nanti.

Tepat 17 hari dirawat dirumah sakit, kesehatan Muqhiat dinyatakan pulih. Dan kami boleh membawanya pulang. Tetapi setiap dua minggu sekali diharuskan kerumah sakit untuk di periksa.

Tiba dirumah, segalanya sangat mengejutkan. Semua keluargaku dan keluarga suamiku berkumpul. Mereka membuat selamatan. Tasyakuran untuk kesembuhan bayiku. Aku tak ingin melepaskan dari gendongan. Aku sangat bahagia merasai hangat tubuhnya, mencium seluruh tubuhnya juga bau mulutnya. Semuanya bahkan nakalnya, ketika aku baru saja mandi dan ganti baju, sengaja dia mengencingiku. Menyuruhku ganti lagi.

Selang beberapa hari suamiku mengajak berunding. Katanya semua keluarga telah menyetujui kalau nama Muqhiat diganti. Mungkin itu untuk kebaikannya. Ah, kenapa mesti mempercaya sugerti itu. Tapi apa akan salah di panggil, siapapun namanya dia adalah bayiku, anakku. Tidak ada yang berubah. Dia menempati posisi yang istimewa dihatiku dan suamiku.

Ah! Hampir saja aku lupa menceritakan sejak dirumah sakit itu. Aku begitu tergantung pada suamiku. Dan entah mengapa, untuk selanjutnya aku lebih senang jika dia memanjakanku. Sikapku, perlakuanku pada suamiku tidak seperti dulu  Dan ketakutanku yang dulu pernah ada hilang rasanya aku tak bisa jauh denganya , dan sangat membutuhkan dia. Bagiku dia begitu berharga aku rela menukar apapun agar dia selalu ada bersamaku. Hikmah besar dalam kehidupan rumah tanggaku, dia lelaki terbaik pilihan orang tuanku untukku. Penikahan diniku tidak seperti orang-orang gambarkan, buktinya aku, suamiku dan anakku bahagia sampai sekarang.
(seperti yang diceritakan ibu Ngatini, Jenar, JATENG )

Jika Anda tersentuh dengan cerita di atas, tolong “share” cerita ini ke teman-teman yang lain agar mereka juga dapat memetik hikmah yang ada pada cerita di atas. Semoga dapat bermanfaat bagi kehidupan kita, terimakasih.

( Sumber : sekolahkehidupan.com )

Speak Your Mind

Tell us what you're thinking...
and oh, if you want a pic to show with your comment, go get a gravatar!

You must be logged in to post a comment.

"));