Sunday, April 20, 2014

Kado Terakhir Dari Ayah

Di sebuah perumahan terkenal di jakarta tinggalah seorang gadis bersama sang ayah, sang ibu telah lama mendahuluinya pergi sejak ia masih kecil. .

Seorang gadis yg akan di wisuda, sebentar lagi dia akan menjadi seorang sarjana, akhir jerih payahnya selama beberapa tahun di bangku pendidikan.

Beberapa bulan yang lalu dia melewati sebuah showroom, dan saat itu dia jatuh cinta kepada sebuah mobil sport, keluaran terbaru dari Ford. Selama beberapa bulan dia selalu membayangkan, nanti pada saat wisuda ayahnya pasti akan membelikan mobil itu kepadanya. Dia yakin, karena dia anak satu-satunya dan ayahnya sangat sayang padanya, sehingga dia sangat yakin nanti dia pasti akan mendapatkan mobil itu.

Diapun ber’angan-angan mengendarai mobil itu, bersenang-senang dengan teman-temannya. Bahkan semua mimpinya itu dia ceritakan ke teman-temannya, Saatnya pun tiba, siang itu, setelah wisuda, dia melangkah pasti ke ayahnya.

Sang ayah tersenyum, dan dengan berlinang air mata karena terharu dia mengungkapkan betapa dia bangga akan putrinya, dan betapa dia mencintai anak itu.

Lalu dia pun mengeluarkan sebuah bingkisan,… bukan sebuah kunci!

Dengan hati yang hancur sang anak menerima bingkisan itu, dan dengan sangat kecewa dia membukanya. Dan dibalik kertas kado itu ia menemukan sebuah Jaket kulit Terkenal, di belakangnya terukir indah namanya dengan sutra emas.

Gadis itu menjadi marah, dengan suara yang meninggi dia berteriak, “Yaahh… Ayah memang sangat mencintai saya, dengan semua uang ayah, ayah belikan jaket ini untukku?”

Lalu dia membuang Jaket itu dan lari meninggalkan ayahnya.

Ayahnya tidak bisa berkata apa-apa, hatinya hancur, dia hanya berdiri mematung, tak tahu apa yg harus di lakukannya ..

Tahun demi tahun berlalu,

sang gadis telah menjadi seorang yang sukses. Dengan bermodalkan otaknya yang cemerlang dia berhasil menjadi seorang wanita karir. Dia mempunyai rumah yang besar dan mewah, dan dikelilingi suami yang tampan dan anak yang cerdas.

Sementara itu ayahnya semakin tua dan tinggal sendiri. Sejak hari wisuda itu, anaknya pergi meninggalkan dia dan tak pernah menghubungi dia. Dia berharap suatu saat dapat bertemu anaknya itu, hanya untuk meyakinkan dia betapa sayangnya pada anak itu. Sang anak pun kadang rindu dan ingin bertemu dengan sang ayah, tapi mengingat apa yang terjadi pada hari wisudanya, dia menjadi sakit hati dan sangat mendendam.

Sampai suatu hari datang sebuah telegram dari kantor kejaksaan yang memberitakan bahwa ayahnya telah meninggal, dan sebelum ayahnya meninggal, dia mewariskan semua hartanya kepada anak satu-satunya itu. Sang anak disuruh menghadap Jaksa wilayah dan bersama-sama ke rumah ayahnya untuk mengurus semua harta peninggalannya. Saat melangkah masuk kerumah itu, mendadak hatinya menjadi sangat sedih, mengingat semua kenangan semasa dia tinggal disitu. Dia merasa sangat menyesal telah bersikap buruk terhadap ayahnya.

Dengan bayangan-bayangan masa lalu yang menari-nari di matanya, dia menelusuri semua barang di rumah itu. Dan ketika dia membuka lemari pakaian ayahnya, dia menemukan Jaket itu, masih terbungkus dengan kertas kado yang sama beberapa tahun yang lalu.


sesuatu jatuh dari bagian kantong Jaket itu. Dia memungutnya.. sebuah kunci mobil! Di gantungan kunci mobil itu tercetak nama dealer, sama dengan dealer mobil sport yang dulu dia idamkan! Dia merogoh kantong sebelahnya dan menemukan sesuatu,, di situ terselip STNK dan surat-surat lainnya, namanya tercetak di situ. Dan sebuah kwitansi pembelian mobil, tanggalnya tepat sehari sebelum hari wisuda itu.

Dia berlari menuju garasi, dan di sana dia menemukan sebuah mobil yang berlapiskan debu selama bertahun-tahun, meskipun mobil itu sudah sangat kotor karena tidak disentuh bertahun-tahun, dia masih mengenal jelas mobil itu, mobil sport yang dia dambakan bertahun-tahun lalu. Dengan buru-buru dia menghapus debu pada jendela mobil dan melongok kedalam. Bagian dalam mobil itu masih baru, plastik membungkus jok mobil dan setirnya, di atas dashboardnya ada sebuah foto, foto ayahnya, sedang tersenyum bangga

Mendadak dia menjadi lemas, lalu terduduk disamping mobil itu, ia menangis. air matanya tidak terhentikan, mengalir terus mengiringi rasa menyesalnya yang takan mungkin bisa terobati…

Tolong “share” ke teman-teman yang lain agar mereka juga dapat memetik hikmah yang ada pada kisah di atas. Semoga dapat bermanfaat bagi kehidupan kita, terimakasih.

sumber : dibebaskan.blogspot.com

Comments

2 Responses to “Kado Terakhir Dari Ayah”
  1. 1thn 5bln sudah aku (Aisha)kehilangan sosok ayah yang sangat aku banggakan. Aku anak ke-3 dr 5 bersaudara. Mungkin dr ke-5 saudaraan ini, aku lah yang sangat menderita atas kepergian ayah, walau tak bisa ku pungkiri mereka juga sangat merasa kehilangan. Ayah meninggalkan kami saat aku akan masuk kuliah disalah satu PT di kota sebelah. Cita2 ayah sangat teguh digantungkan kepadaku untuk membahagiakan ibu dan membawa kedua adik ku ke masa depan cerah, aku juga bingung kenapa ayah harus seolah menggantungkannya padaku, padahal kedua kakak ku ada dan duduk di bangku kuliah, walau kakak yg nomor dua telah menikah dan punyai satu orang putri.
    Setelah kepergian ayah, jujur, tapi bukan tafakur, aku seakan tak pernah mendapat kebahagiaan. Karena demi melanjutkan kuliah ku yg baru masuk, aku harus tinggal dirumah paman demi menghemat biaya hidup. Segala derita ku alami di kota kuliah ku tersebut, dan awalnya aku sering mengeluh pada ibuku bahwa aku tak sanggup tinggal bersama paman dan tanteku yang mempunyai 5 org anak yang kesemuanya jarang menghargai pekerjaan rumah yang ku laksanakan dirumah mereka. Itulah hal yang sangat menggores hatiku, hingga aku tak bisa merebahkan sayap minatku menjadi mahasiswa yg aktif berorganisasi di PT ku itu, karena menumpuknya tugas rumah stiap harinya tanpa ada rasa kasian dr mreka. Kadang aku berpikir, andai ayahku masih hidup akankah derita ini masih ku pundak..??
    Sungguh sekarang aku tak mau lagi cerita tentang apapun yg terjadi pd diri ku kepada ibu, krna aku takut ibu sedih. Semua pahit manis yg ku dapat dr perjalann kuliah ku, biarlah aku sendiri yg menanggung.
    Ku hanya berharap, impian ayah, harapan n doa ibu ku dapat aku gapai dgn Rido Allah swt.

  2. Anis Warda says:

    untuk ananda Nikmah Aisyah,
    Rencana Allah kita tidak tau tapi berkeyakinan bahwa yang terbaiklah yang akan kita dapatkan itu perlu ditanamkan. bagaimana kita mendapatkan yang terbaik kalau kita berburuk sangka kepada Allah.
    Saya berkeyakinan seperti ini tentang takdir kita :
    Ibarat sebuah pohon yang bercabang banyak, pada saat kita memanjat pohon tersebut kita yang menentukan cabang mana yang akan kita naiki, yang berbua banayk atau cabang yang tidak berbuah sama sekali, itu yang akan kita peroleh.
    Jangan mengeluh, usaha kita itu bagian dari DOA. minta lah yang terbaik dari Allah maka Allah akan memberikan yang terbaik, yakinlah itu

Speak Your Mind

Tell us what you're thinking...
and oh, if you want a pic to show with your comment, go get a gravatar!

You must be logged in to post a comment.