Sunday, April 20, 2014

Kisah Anton Medan

Tan hok liang adalah nama asli Anton
Medan. Ia lahir di Tebing Tinggi, Sumatera
Utara 1 Oktober 1957. Di usia 8 tahun, ia
harus berhenti sekolah karena permintaan
ibunya untuk membantu berjualan kue. Ia
hanya mengenyam bangku Sekolah Rakyat
(SR, sekarang SD) selama 7 bulan, dan
belum bisa membaca dan menulis.
Menginjak usia 12 tahun, Kok Lien
(panggilan kecilnya) menjadi anak terminal
Tebing Tinggi, menjual jasa mencarikan
penumpang bagi sopir. Kok Lien dikenal
rajin. Banyak sopir terminal senang dan
memanggilnya Cina Tongkol (Cintong). Tapi
tak semua sopir menghargai kerja
kerasnya. Suatu ketika ada seorang sopir
tidak memberinya upah. Kok Lien protes.
Tapi sopir itu malah marah. Terjadilah
perang mulut. Tak sabar, Kok Lien
mengambil sebuah balok kayu dan
menghantam sekuat tenaga. Sopir itu pun
tersungkur. Kok Lien lari. Tapi polisi
menangkapnya.
***
TAHUN 1970 Kok Lien merantau ke
Terminal Medan. Usianya baru 13 tahun. Di
Medan ia bekerja sebagai pencuci bus.
Seperti di terminal Tebing Tinggi, ia dikenal
rajin. Dalam satu hari ia bisa membersihkan
3-5 badan bus yang berdebu.
Seolah tak putus dirundung masalah, di
terminal ini uangnya dicuri. Menyadarinya
Kok Lien gelagapan. Setelah dilidiki, ia
menemukan pencurinya dan menegurnya.
Tapi si pencuri malah marah dan
memukulnya. Orang-orang berdatangan,
tapi tak ada yang melerai. Di saat tersudut,
Kok Lien melihat sebilah kapak bergerigi
yang biasa digunakan membilah es,
tergeletak tak jauh darinya. Secepatnya ia
ambil dan menghunjamkannya ke wajah
lawannya. Seketika lawannya roboh. Kok
Lien lalu ditangkap polisi dan dipenjara
selama 4 tahun di LP Tiang Listrik, Medan.
Menginjak usia 17 tahun Kok Lien bebas. Ia
gembira dan segera pulang, melepas rindu
kepada keluarga. Tapi sayang, sampai di
rumah ibunya hanya memberi waktu 2
jam untuk melepas rindu. Ibunya malu
kepada tetangga. Dengan berat hati, Kok
Lien melangkah pergi.
Di tengah kegalauan, ia ingat pamannya
yang ada di Jakarta. Ia ingin menjumpainya
dan meminta bantuan mencari pekerjaan.
Tapi sayang, ia tidak tahu alamat persisnya.
“Saya tak tau alamatnya, tapi saya nekad ke
Jakarta,” katanya.
Tiba di Jakarta, harapan yang ia pupuk
selama perjalanan hancur berantakan.
Kurang lebih 7 bulan ia mencari rumah
pamannya. Tapi setelah bertemu, ternyata
pamannya tidak mengakuinya sebagai
kemenakan. Malah menistakannya. Begitu
pun adiknya. Ia tercampakkan. Ia kecewa.
Di tengah kekecewaan yang mendalam, ia
bertemu kenalannya di simpang jalan yang
berpenampilan parlente. Temannya baru
saja menjambret. Mendengar cerita
temannya, ia tertarik. Akhirnya, ia menjual
celana kesayangannya demi sebuah pisau.
Dengan pisau itulah ia mulai menjambret
dan berhasil.
Mulai saat itu kehidupan Kok Lien berubah.
Ia sudah memilih kejahatan sebagai profesi.
Senjatanya tak sekedar pisau, tapi pistol. Ia
pun terkenal sebagai penjahat kelas kakap
dan paling dicari di Jakarta dengan nama
Anton Medan!
Perjalanan hidup Anton Medan tak sekedar
menjadi penjahat profesional. Ia menjadi
bandar judi setelah meruntuhkan
kekuasaan bandar judi besar bernama
Hong Lie. Sebagai bandar judi,
pendapatannya satu malam mencapai
puluhan juta. Ia menikmati gaya hidup
mewah. Tapi ironisnya, kekayaan itu habis
pula di dunia judi. Ia frustasi, dan sebagai
pelampiasannya justru bermain judi di
Genting, Makau, Chistmas, Hongkong
maupun Las Vegas. Ia kalah milyaran
rupiah. Dalam kebangkrutan itu, ia
menemukan hikmah kehidupan yang
sangat mendasar. Sejak itulah ia mendalami
Islam secara sungguh-sungguh, bahkan di
kemudian hari dikenal sebagai da’i.
Lebih jauh, seperti yang tertulis dalam
biografi Anton Medan; Pergolakan Jiwa
Seorang Mantan Terpidana, buah karya S.
Budhi Raharjo, selepas menetapkan pilihan
Islam, ia dipercaya sebagai ketua RW di
kampungnya. Sebagai abdi masyarakat, ia
bekerja sunguh-sunguh. Bahkan ketika
harus berhadapan dengan lurah yang
diskriminatif terhadap warganya, ia
bersedia melawan dan merelakan jabatan
ketua RW yang ia sandang. Atas kesediaan
berkorban ini, masyarakat di sekelilingnya
makin simpatik padanya.
Demikianlah perjalanan hidup Anton Medan.

Tolong “share” ke teman-teman yang lain agar mereka juga dapat memetik hikmah yang ada pada kisah di atas. Semoga dapat bermanfaat bagi kehidupan kita, terimakasih.

tabuhgong.blogspot.com

Speak Your Mind

Tell us what you're thinking...
and oh, if you want a pic to show with your comment, go get a gravatar!

You must be logged in to post a comment.