Wednesday, April 23, 2014

Kisah Monyet Dan Buaya

Jaman dahulu, ada seekor kera tinggal pada sebatang phon jambu di tepi sebuah sungai. Selama musim panas pohon itu akan penuh dengan buah jambu yang masak adn manis. Kera memanfaatkannnya untuk berpesta-pora dengan senangnya.

Suatu hari seekor buaya berkeliaran dekat pohon jambu itu. Ia melihat sang kera sedang duduk pada cabang pohon itu.

“Hai kera,” kata si buaya sambil tersenyum lebar.”maukah kau menjatuhkan sedikit buah jambu? Aku agak sedikit lapar.”

Kera itu sangat baik hati. Lalu ia memetik beberapa tangkai buah jambu yang masak dan mains serta melemparkannya pada sang buaya.

“Sedap!” kata si buaya dengan cepat melahap semua buah jambu itu. “Dapatkah kamu melemparkan sedikit lebih banyak lagi? Aku ingin membawakannya untuk istriku di rumah.”

“Oh, tentu, kawanku!” kata si kera sambil melemparkan beberapa tangkai buah jambu lagi pada sang buaya. “Aku harap istrimu senang juga menikmatinya.”

Musim panas dengan depat berlalu. Setiap hari sang buaya menemui sang kera.

Mereka berdua menjadi sahabat yang sangat akrab. Mereka pasti menyantap buah jambu bersama-sama. BIla saatnya pulang sang buaya pasti membawa bebrapa ikat jambu untuk istrinya.

Buaya betina menjadi senang. Suatu hari buaya betina berkata,”Sayangku, kalau kera itu tiap hari makan buah jambu betapa lezat dagingnya?”

Buaya jantan agak terkejut.”Teganya kau berpikiran seperti itu. Kera itu adalah kawanku yang terbaik.”

“Aku tidak perduli,” kata buaya betina,”aku menginginkan daging kera untuk makan malamku. Carilah akal dan bawalah ia ke sini.”

“Itu tidak mungkin,” kata buaya jantan dengan tegas,” aku tak tega membunuh sabahat terbaikku.”

Hari-hari berlalu dan buaya betina itu menjadi bertambah penasaran untuk menyantap daging kera. Sementara buaya jantan tetap tak mau mengkhianati perasahabatannya dengan kera.

Akhirnya buaya betina merencanakan suatu siasat. Suatu hari, buaya betina berbaring dengan kata tertutup sambil merintih dengan keras.

“Apa yang terjadi dengan dirimu?” teriak buaya jantan merasa sangat cemat.

“Aku merasa sangat sakit,” rintih buaya betina,”aku rasa aku akan segera mati.”

“Ah jangan!” teriak buaya!” jantan;”aku tak akan membiarkanmu mati. Beritahu aku, apa yang dapat aku lakukan untuk menyelamatkan nyawamu?”

“Hanya ada satu jalan bagimu untuk menyelamatkan nyawaku,”jawab buaya betina.”

“Katakan apa itu?” tanya buaya jantan.

“Bila kamu dapat membawakan hati kera, aku akan baik kembali.”

“Tetapi bagaimana mungkin aku dapat berbuat demikian? Kera itu satu-satunya sahabat yang aku punyai. Bagaimana dapat akumenyakitinya?” tanya buaya jantan.

“Kalau begitu biarkan saja aku mati,” kata buaya betika sambil menangis.

“Oh sayangku, aku jangan kau tinggal mati,” kata buaya yang malang itu.”Sekarang juga aku akan pergi dan menjemput kera itu.”

Seketiak itu juga nampak wajah buaya betina berseri-seri. Sementara buaya jantan segera pergi menuju pohon jambu itu.

“Ahaaa…bakal kesampaian keinginanku makan hati kera,” pikir buaya betina.

“Wah buaya jantan, anda diasana rupanya,” kata si kera dengan gembira. “Senang melihat anda kembali. Bolehkah kulemparkan beberapa tangkai buah jambu padamu?”

“Tidak, tidak wahai kera,” kata buaya jantan sambil tersenyum lebar menunjukkan barisan gigi-giginya yang tajam,”Hari ini kami tak membutuhkan buah jambu.”

“Mengapa demikian wahai buaya jantan? Apakah kalian hari ini tidak lapar?”

“Wahai kera, hari ini istriku mengundangmu untuk makan siang bersama. Ia sangat berterimakasih padamu. Lalu hari ini istriku memasak makan siang istimewa untukmu.”

“Oh, betapa baik hatinya,” kata si kera.”AKu akan sangat senang menemanimu berdua makan siang.’

“Ayolah, melompatlah ke atas punggungku. Aku akan cepat-cepat membawamu ke rumahku,” kata si buaya.

“Horeee!” teriak sang kera sambil berpegangan kuat-kuat pada punggung buaya.

Namun setelah buaya mencapai tengah sungai, tiba-tiba ia mulai berguling-guling di air. ” Hentikan itu wahai sang buaya jantan.”teriak sang kera ketakutan,”aku akan jatuh bila kamu tidak menghentikannya.”

“Iut memang mauku,” kata sang buaya,”aku sedang berusaha menggulingkanmu.”

“mengeapa? Aku kan temanmu. Mengapa kamu berusaha membunuhku?” tanya si kera dengan amat terkejut.

“Istriku sakit dan ia akan sembuh hanya bila ia menyantap hatimu,’ jawab buaya.

“Mengapa tak bercerita kepadaku sebelumnya?” kata kera sambil tersenyum. “Bila kamu tadi bercerita padaku sebelum meninggalkan pohon jambu, tentunya akau akan membawa serta hatiku.”

“Maksudmu hatimu tidak ada bersamamu sekarang ini?” kata buaya jantan.

“Tentu saja tidak,” kata si kera sambil menggeleng-gelangkan kepalanya. “Aku tidak pernah membawa hatiku kemanapun aku pergi. Aku akan selalu menyembunyikannya di lubang pohon jambu sebelum meninggalkan tempat tinggalku itu.

“Itu berarti kit aharus kembali mengambil hatimu,” tanya buaya yang bodoh itu mempercayai setiap kata yang diucapkan si kera. “Ya!” jawab si kera, ” ayo kita kembali dulu sebelum istrimu bertambah prah.” Sang buaya dan si kera kembali ke pohon jambu secepat mungkin. Segera setelah sampai, si kera cepat-cepat melompat dari punggung buaya dan memanjat pohon.

“Kamu mengambil apa kok lam sekali?” tanya si buaya,”Sudah ketemukah hatimu?”

“Hatiku selamat bersamamu, engkau buaya yang bodoh,” si kera tertawa,”Pulanglah dan beritahu istrimu yang kejam itu untuk membuang keinginannya menyantap hati seekor kera.”

“Hah!” buaya penasaran.”Jadi kau menipuku?”

“Istrimu juga menipumu, dia hanya pura-pura sakit belaka! kau terlalu menuruti keinginan istrimu tanpa mempertimbangkan persahabatan kita.”

“Oh kera aku menyesal kini…”

“Sudahlah, kau pulang saja, dunia kita memang berbeda.”

“Ma’afkan aku kera sahabatku, aku telah mengecewakanmu.”

“Pulanglah buaya…”

Tolong “share” ke teman-teman yang lain agar mereka juga dapat memetik hikmah yang ada pada cerita di atas. Semoga dapat bermanfaat bagi kehidupan kita, terimakasih.

Speak Your Mind

Tell us what you're thinking...
and oh, if you want a pic to show with your comment, go get a gravatar!

You must be logged in to post a comment.