Friday, October 31, 2014

Gambar Gerobak Sapi

Kacung benar-benar tak mengerti, kenapa Udin selalu memusuhinya. Sejak kedatangannya di sekolah itu sebagai murid baru, Udin sudah tampak kurang senang kepadanya. Anak-anak yang lain segera dapat diajak berteman, bahkan di antara mereka ada yang lalu menjadi sahabat karib. Tetapi Udin tetap tak mau menanggapi ajakannya untuk berkawan. Ia bahkan kian membencinya.

Udin bertubuh besar dan kekar. Sangat berlawanan dengan Kacung, yang kecil kerempeng. Wajahnya juga cakap. Dalam hal ini Kacung pun kebalikannya. Hanya dalam soal pelajaran Kacung sedikit lebih unggul, terutama dalam mata pelajaran sejarah dan ilmu bumi.

Beberapa hari yang lalu hampir terjadi keributan. Peristiwa itu diawali dalam kelas. Waktu pelajaran ilmu bumi, Pak Guru bertanya kepada Udin, di propinsi mana letak Gunung Raung. Agaknya Udin tak tahu, dan memberikan jawaban sekenanya. lalu Pak Guru memandang ke arah kacung dan bertanya, “Di propinsi mana, Cung, letak Gunung Raung?”

Cepat Kacung menjawab, “Di Propinsi Jawa Timur, Pak.”

“Bagus!” puji Pak Guru, yang lalu berpaling ke arah Udin dan berkata, “Kau harus belajar lebih baik, Din!”

Seusai sekolah, masih di depan pintu gerbang, Udin menghadang Kacung. Karena tak mengerti persoalannya dan merasa tidak bersalah, Kacung hendak berlalu begitu saja tanpa memperhatikan Udin. Tapi Udin memanggilnya, “Hai, Cung! Berhenti!”

Dengan terkejut dan hati kecut Kacung berhenti. Udin berjalan mendekat sambil tangan kiri berkacak pinggang dan tangan kanan mengacungkan tinju. Dengan geram ujarnya, “Kau mesti kuhajar hari ini!”

“Kenapa?” tanya Kacung heran dan amat cemas.

“Biar kau tak merasa paling pandai dalam kelas. Kau selalu besar kepala. Biarlah kukecilkan sedikit dengan tinjuku ini.”

Teman-teman berkerumun mengelilingi mereka tanpa berbuat sesuatu. Udin lalu mengayunkan tinjunya dan mengarahkannya ke rahang Kacung. Namun Kacung sempat mengelak dan meloncat mundur ke tengah-tengah kerumunan anak-anak.

Udin makin marah dan mendesak lagi, tapi menghadapi pagar betis anak-anak yang menghalanginya. Ia berusaha menembus rintangan itu, tapi tak berhasil. Bahkan kian banyak teman-teman yang mengelilingi Kacung membentuk perlindungan.

“Ada apa, Din?” tanya Hadi, ketua kelas.

“Kau dengan sendiri tadi dalam kelas, kan?” jawab Udin dengan wajah merah karena marah. “Ia begitu besar kepala dan berlagak paling jago dalam ilmu bumi. Sekarang hendak kubuktikan siapa sebenarnya Udin.”

“Alaa…, kau saja yang mencari-cari persoalan,” ujar Hadi. “Ia ditanya Pak Guru dan menjawabnya. Apa salahnya?”

“Tidak, ia harus kuhajar, biar jera selam hidupnya!” teriak Udin kian bernafsu. Ia bergerak hendak menerjang teman-teman yang menghalanginya.

“Dengar, Udin!” kata Hadi lagi, “Tubuhmu begitu besar. Jelas kau lebih kuat daripada si Kacung. Tidak malukah kau melawan anak kecil kerempeng itu? Kau pasti menang, Din! Tapi memalukan! Tidak perlu kau, anak perempuan pun mampu merobohkan dia!”

Udin diam. Wajahnya memerah lagi, tapi kini karena malu. Tanpa bicara lagi ia berlalu. Anak-anak pun bubar, dan Kacung berjalan pulang dengan tenang.

Kacung menduga Udin tak memusuhinya lagi. Tapi ternyata sikap Udin tak berubah, ia masih selalu mencari akal untuk melampiaskan kebenciannya kepada Kacung.

Suatu hari anak-anak mendapat pelajaran menggambar. Kepada tiap-tiap anak Pak Guru membagikan selembar kertas gambar. Waktu satu jam diberikan untuk menggambar sesuka hati. Pak Guru juga berkata, “Siapa yang telah selesai, supaya meletakkan gambarannya di atas rak, lalu boleh keluar untuk beristirahat.”

Semua anak segera mulai menggambar. Masing-masing menurut kesukaannya. Belum sampai bel berbunyi, Kacung telah selesai. Ia yang paling dulu meletakkan gambarannya di atas rak di sudut kelas.

Agaknya hal itu membuat hati Udin menjadi panas. Cepat-cepat ia selesaikan pekerjaannya. Dengan bergaya ia menenteng gambarannya yang berupa sebuah gerobak sapi menuju rak. Lalu meletakkannya tepat di atas gambaran Kacung, dan tanpa menoleh ia berjalan keluar.

Makin banyak anak-anak yang meletakkan gambarnya di atas rak, sehingga tumpukan gambaran itu kian meninggi. Tiba-tiba Kacung teringat, bahwa ia telah lupa menuliskan namanya di atas kertas gambarnya. Setelah membubuhkan namanya, ia meletakkannya lagi di atas tumpukan.

Waktu istirahat Udin masuk kelas yang sedang kosong. Ia menengok kanan kiri seolah-olah takut dipergoki. Dengan bersijingkat ia menuju rak di sudut kelas. Cepat dihampirinya tumpukan gambaran dan diambilnya kertas yang terbawah, yang dikiranya milik Kacung.

Sambil berpaling ke belakang karena takut ketahuan, tanpa memeriksanya lagi diremasnya gambaran itu sehingga menjadi gumpalan. Tanpa ragu dibawanya gumpalan itu keluar dan dibuangnya ke tepi halaman, di bawah semak-semak pagar.

Keesokan harinya Pak Guru membagikan gambaran yang telah diperiksa dan mendapat nilai. Waktu Kacung dipanggil untuk menerima gambarannya, Udin tampak sangat keheranan. Dan lebih heran lagi ia waktu dirinya sendiri tak mendapat panggilan. Bahkan Pak Guru bertanya, “Kenapa gambaranmu tidak ada, Udin?”

Udin tak mampu menjawab. Tapi waktu sekolah usai, ia langsung menuju tepi halaman. Setelah beberapa saat mencari-cari di bawah pagar, ia memungut sebuah gumpalan kertas. Dengan wajah sedih kertas itu diluruskannya. Tampak gambar sebuah gerobak sapi.

oleh: S. Padmadi

Tolong “share” ke teman-teman yang lain agar mereka juga dapat memetik hikmah yang ada pada renungan di atas. Semoga dapat bermanfaat bagi kehidupan kita, terimakasih.

( Sumber : www.selamatpagi.net )

Speak Your Mind

Tell us what you're thinking...
and oh, if you want a pic to show with your comment, go get a gravatar!

You must be logged in to post a comment.

"));