Monday, July 28, 2014

Pesta Ulang Tahun Untuk Rara

Aku menatap miris pada buku tabungan. Menghela nafas sepanjang apapun takkan mengubah angka-angka yang tertera di dalamnya. Kalau sudah begini, ada terselip penyesalan karena tak bekerja lagi. Seandainya masih bekerja tentu aku tak sebingung ini hanya untuk memenuhi permintaan putriku.

Putriku minta diadakan pesta ulang tahun. Padahal bulan ini bukan hanya dia yang berulang tahun. Adiknya berulang tahun hanya beda satu hari dari kakaknya. Tiga hari kemudian ayah mereka yang berulang tahun. Seminggu kemudian adik iparku berulang tahun dan di akhir bulan ini ada tiga keponakanku berulang tahun. Aku bisa menghapus hadiah kado untuk suami dan adik iparku, tetapi untuk tiga keponakanku jelas tidak mungkin. Mereka masih terlalu kecil untuk mengerti kalau uwaknya sedang tak ada uang.

Kalau aku mengadakan pesta ulang tahun untuk Rara, jelas aku juga harus mengadakan pesta ulang tahun untuk Dimas. Tak adil rasanya jika aku hanya mengadakan satu pesta sementara yang lain tidak. Padahal bulan ini tabungan kami benar-benar tak memungkinkan untuk mengadakan pesta.

Tadi malam putriku berkata, “Mah, aku minta pesta yang meriah seperti waktu di tk dulu ya ma. Diadain di restoran dan pakai kue tart yang besar.” Dan putraku pun ikut-ikutan meminta, “Kalau Dimas minta pesta pakai baju bajak laut, ya ma.”

Aku hanya bisa diam, menatap pada suamiku yang tampak masygul. Keadaan memang tak seperti dulu lagi. Dulu segalanya lebih mudah sebelum cobaan berat menghantam rumah tangga kami. Hampir saja kami kehilangan tempat tinggal karena orang yang kami tolong ternyata berubah jadi rubah hitam yang menyalahgunakan kepercayaan kami. Saat ini kami sedang berusaha dari nol lagi, sedikit demi sedikit mengembalikan keadaan. Sulit tapi akhirnya bisa terlewati pelan-pelan.

Kembali ke anakku, permintaan mereka adalah hal yang paling tidak mungkin. Tidak memenuhi permintaan mereka juga kami tak tega karena sudah dua tahun terakhir ini mereka turut merasakan penderitaan. Kami tak lagi sesering dulu keluar rumah. Mereka bahkan harus mengalah untuk tidak berulang tahun selama dua tahun terakhir, berhenti berlangganan majalah kesukaan mereka, berhenti membeli DVD baru sampai harus memakai tas dan sepatu hingga benar-benar rusak baru terpaksa kami ganti. Kami sudah terlalu sering tidak memenuhi keinginan mereka.

Akhirnya setelah berbicara banyak dengan suamiku. Kami memutuskan untuk menjual gelang perhiasanku yang sudah lama tak kupakai. Suamiku agak berat hati tetapi aku tak mempermasalahkannya. Gelang itu pemberiannya saat ulang tahun pernikahan kami yang kelima.

Setelah menghitung-hitung ternyata tetap saja tak cukup. Suamiku berpikir sejenak sebelum berdiri membuka lemari tempat ia meletakkan cincin emas tanda pengabdiannya bekerja lima belas tahun di kantornya. Ia mengambil kotak cincin, membukanya dan lalu menyerahkan padaku.

“Kalau mama merelakan hadiah ulang tahun kesayangan mama untuk anak-anak, Ayah juga rela cincin ini dijual. Demi anak-anak.” Katanya. Aku menatap suamiku haru dan mengulangi kata-katanya  dengan lirih, “Ya, demi anak-anak.”

Suamiku menjual kedua barang berharga kami di sebuah toko emas. Tanpa banyak bicara ia memberiku hasil penjualan itu. Kami sepakat untuk tidak membahas karena anak-anak tak boleh tahu.

Pada kedua anakku, aku meminta maaf karena tak bisa memenuhi keinginan mereka. Kami bisa mengadakan pesta ulang tahun tapi hanya di rumah. Mereka tak masalah dan tampak begitu gembira menyambut keputusan kami.

Kami sepakat membereskan rumah bersama sebelum pesta diadakan. Saat beres-beres, aku menemukan banyak sekali barang-barang bekas anak-anak yang bertumpuk di gudang.  Karena sudah tak terpakai, aku terpikir untuk menyumbangkannya pada panti asuhan yang biasa kami datangi tiap bulan.

Aku membawa Rara dan Dimas seperti biasa. Aku katakan mereka boleh bermain dengan anak-anak Panti sementara aku menemui ibu pengurus panti. Kuantarkan barang-barang itu pada Bunda Sarah, kepala Panti Asuhan.

“Bun, maaf. Bulan ini kami tak punya dana lebih. Anak-anak minta diadakan pesta ulangtahun tahun ini.” Kataku meminta maaf sambil menyodorkan sebuah amplop pada Bunda Sarah.

“Ga papa, Bunda. Bunda datang ke sini saja saya sudah sangat bersyukur. Semoga acaranya lancar dan meriah ya bunda.” Doa Bunda Sarah membuat mataku berkaca-kaca. Lalu kami berdua sibuk memilah-milah barang yang kubawa ketika Rara dan Dimas berlari masuk.

“Ma, lapar nih. Makan yok!” Kata Rara sambil bergelayut manja padaku. Bunda Sarah malah berdiri mengajak anak-anakku ke dapur. “Ayo, ikut Bunda Sarah! Kita makan sama yang lain yuk!”

Aku ikut masuk ke dapur karena tak ingin membuat Bunda Sarah kerepotan mengurus dua anakku yang manja. Tapi tampaknya anak-anak cukup manis karena mereka duduk di bangku panjang bersama anak-anak panti lain dengan tertib.

Setelah menggoreng tempe dan hati ayam , aku membantu bunda Sarah menyajikannya untuk anak-anak. Saat melihat makanan yang disajikan, putriku turun dari kursinya membawa piring.

“Ma, ini hatinya kecil sekali. Mana cukup Rara makan segini.” Keluh putriku.

“Sssttt!” aku langsung menaruh telunjuk di bibirku, meminta putriku diam. Lalu sambil  berbisik aku berkata, “Sayang, nanti saja di rumah kita nambah. Coba Rara lihat yang lain, ukurannya sama juga kan. Mereka tidak ngeluh loh.”

Rara menatap teman-temannya yang tampak lahap makan nasi jatah mereka. Dengan patuh, dia kembali duduk dan makan pelan-pelan. Sesekali kulihat ia melirik ke arah anak-anak itu. Mungkin ia bingung kenapa anak-anak itu sama sekali tidak protes.

Setelah makan aku mencuci piring anak-anak. Sebagian anak yang lebih besar ikut membantu Bunda Sarah dan aku berberes-beres. Pekerjaan selesai dengan cepat. Maka aku segera mencari kedua anakku. Sudah waktunya kami pulang karena ayah mereka akan pulang dari kantor sebentar lagi.

Aku menemukan Rara sedang duduk bercerita bersama dua orang anak perempuan, Keisya dan Dahlia. Kupanggil Rara sembari menggendong Dimas yang kelelahan dan mengantuk. Kamipun berpamitan pada Bunda Sarah.

Sesampainya di rumah, aku langsung duduk mengecek daftar yang harus kulakukan sembari menunggu Dimas yang masih tertidur. Tapi tiba-tiba putriku datang. “Mah, Rara ga jadi pesta deh.”

Aku menoleh kaget, “Loh kenapa?”

Putriku terdiam sambil memainkan mulutnya. Airmatanya menggantung di matanya. “Rara, Rara… pokoknya Rara ga mau pesta ulang tahun. Rara malu.” Katanya cepat.

Aku tertawa kecil, “Loh kenapa malu, neng? Memangnya Rara malu mengundang teman-teman Rara ke rumah?”

Putriku menggeleng, Ia duduk di sampingku dan berkata pelan, “Rara malu sama Allah Mah. Rara sudah dikasih Mama dan Ayah, masih kepengen ulang tahun segala. “

“Maksud Rara apa sih nak? Mama kok jadi bingung.”

“Tadi Rara tanya sama Dahlia, sama Keisya. Kalau mereka ulang tahun, mereka kepengen apa. Trus Keisya bilang kepengen punya orang tua seperti Rara, Dahlia juga sama.” Kulihat mata putriku berkaca-kaca.

“Loh kok nangis sih? Ayo crita dulu yang lengkap!” kataku sambil merangkul bahu Rara.

“Rara malu karena Rara gak bersyukur selama ini, Ma. Rara masih punya orangtua tapi Rara selalu minta macam-macam.” Putriku menangis di pelukanku. Hatiku seperti  disiram air hangat.

Perasaan Rara memang peka sekali dan mudah  terharu. Seperti diriku, dia juga  tak mudah menceritakan isi hatinya. Tapi air mata yang membasahi dadaku membuktikan betapa hatinya tersentuh mendengar permintaan sederhana teman-temannya.

Malamnya saat kuceritakan pada suamiku, iapun terharu. Tapi ketika aku menawarkan untuk mengadakan pesta di panti asuhan, suamiku justru melarangnya karena katanya hal itu malah membuat anak-anak panti asuhan nanti merasa semakin iri. Kasihan katanya, maksud hati hendak menyenangkan hati mereka, tapi jauh di lubuk hati anak-anak itu pasti terselip rasa iri. Kalau memang ingin memberi, berikanlah sesuatu tanpa mengadakan seremonial ulang tahun. Aku sepakat karena  paham suamiku tahu betul bagaimana rasanya menjadi anak yang tinggal di panti asuhan.  Kami putuskan untuk tetap menyedekahkan uang kami sebagai bentuk rasa syukur bukan karena terpaksa atas permintaan putra-putri kami. Anak-anak tetap menikmati “pesta” di panti asuhan walaupun tak ada kue ulang tahun. Kami membuat pesta sederhana, makan-makan istilah anakku. Sisa dana semua kami berikan pada Bunda Sarah. Berharap ia bisa menggunakannya lebih baik dari kami.

Sejak itu kami tak pernah lagi mengadakan pesta ulang tahun. Rara selalu bilang pada setiap orang, kalau ia malu dirayain dan Cuma kami orangtuanya yang mengerti arti kata malu itu. Dimas juga sama, walaupun kadang-kadang timbul juga ide konyolnya mengadakan pesta aneh-aneh, khas anak laki-laki. Tetapi tiap kali kutanggapi serius, dia malah tertawa-tawa dan tak pernah berkata ya.

Hari ini putriku sudah berulang tahun yang ke sepuluh, aku hanya menghadiahkan selembar  kaos warna pink yang memang dia butuhkan. Sementara besok di hari ulang tahun putraku yang ke tujuh, dia meminta baju kaos bola bergambar garuda di dada dan sepatu bola. Pesta? Meskipun tahun ini aku telah memberikan tiga pilihan untuk mereka seiring dengan membaiknya ekonomi keluarga kami yaitu pesta di restoran,  belanja di mall atau makan bersama keluarga. Keduanya memilih makan bersama keluarga di akhir pekan ini. Gelang dan cincin kami mungkin telah melayang walaupun pesta tak jadi diadakan, tapi kami menerima ganjaran yang lebih besar, anak-anak kami lebih menghargai arti keluarga dan pesta yang sesungguhnya.

Jika Anda tersentuh dengan cerita di atas, tolong “share” cerita ini ke teman-teman yang lain agar mereka juga dapat memetik hikmah yang ada pada cerita di atas. Semoga dapat bermanfaat bagi kehidupan kita, terimakasih.

( Sumber : bundaiin.blogdetik.com )

Speak Your Mind

Tell us what you're thinking...
and oh, if you want a pic to show with your comment, go get a gravatar!

You must be logged in to post a comment.