Sunday, October 26, 2014

Sajadah Yang Hilang

Suara kumandang Adzan terdengar dari mesjid tak jauh dari rumah kami. Kulihat Tita berjalan menuju tempat wudhu di dekat dapur, kemudian Raka dan Aisah menyusulnya. Mereka tertawa-tawa kecil sambil bercanda, saling memercikkan air. Aku menegur mereka agar tak bermain-main dengan air karena takut mereka terpeleset.

Tak lama kemudian barulah kulihat putra terkecilku, Iman mengambil wudhu. Ia sempat menegurku pelan, “Bunda, ga sholat?”

Aku tersenyum sambil terus mengaduk sayur lodeh yang sedang kumasak, “Sebentar nak, Bunda selesaikan ini dulu. Iman duluan saja.”

Iman tak berkata apapun, ia segera mengambil wudhu. Beberapa menit setelah Iman selesai dan naik ke loteng, suamiku pun datang akan berwudhu juga.

“Hmm, baunya enak, Bun.” Kata suamiku sambil melewati dapur menuju tempat wudhu.

“Sudah wudhu sana!” kataku mengingatkan. Aku mulai memasukkan piring-piring kotor bekas aku menyiapkan sayur-sayuran tadi ke dalam tempat cuci piring. Sebentar lagi sayur masak, aku bisa sholat magrib setelah semua selesai.

“Bundaaa!” teriakan Tita dari loteng membuatku kaget. Suamiku juga. Aku mematikan kompor dan naik ke atas tergopoh-gopoh bersama suamiku.

Tita sudah mengenakan mukena sambil merengut, “Bunda, lihat sajadahku tidak?”

“Loh, kok tanya bunda sih? Mana Bunda tahu, jangan-jangan ketinggalan di sekolahmu kali.”

“Ya nggak, Tita punya sajadah kan dua. Satu di rumah, satu lagi di sekolah.” Tiba-tiba kepala Raka juga muncul.

“Sajadah Raka juga gak ada, Bun!” Aku menoleh bingung. Setahuku hari ini aku tidak mencuci sajadah. Aisah pun keluar dari kamarnya, ia juga kehilangan sajadahnya.

Kening suamiku berkerut. “Ya sudah, pakai sajadah Ayah Bunda sajalah. Sebentar ya!” katanya sebelum menghilang masuk di balik kamar kami.

Tapi kemudian ia keluar lagi, bingung tergambar jelas di wajahnya. “Sajadah Ayah dan Bunda juga hilang.”

Aku menatap anak-anakku bingung, suamiku juga. Lalu kami teringat sesuatu, “Iman!” pekikku berbarengan dengan suami.

Tiba-tiba terdengar suara Iman berqomat di mushola bawah. Cepat-cepat aku, suamiku dan ketiga anakku menuruni tangga menuju Musholla.

Tampak Iman, putraku dengan tangan di dekat telingat berqomat menggetarkan seisi ruang Musholla. Di dekatnya, sudah tersusun rapi sajadah-sajadah yang kami pikir tadi hilang. Rapi sekali. Aku menatap suamiku, ada malu berkelebat di matanya.

Memang, sudah lama sekali kami sekeluarga jarang sholat berjamaah.  Kami memang tetap sholat, tetapi kami melakukannya sendiri-sendiri di kamar masing-masing. Musholla yang kami bangun khusus, hanya digunakan oleh para tamu atau keluarga yang kebetulan datang.

Iman telah selesai berqomat, ia menoleh, “Kata Bu Guru, sholat yang lebih baik itu kalau dilakukan bersama-sama, Bunda. Maaf tadi Iman tidak bilang dulu waktu mengambil sajadahnya, soalnya semua tadi langsung larian ke tempat wudhu.”

Aku hanya mengangguk sembari melemparkan senyum. Raka, Aisah dan Tita langsung mendekati Iman. “Hebat euy adik kami nih. Sudah pinter qomat. Ayo dah kita sholat bareng!” kata Raka sambil menepuk bahu adiknya, Ia mengambil tempat di sisi adiknya sementara Aisah dan Tita berjejer di belakang mereka.

Suamiku langsung mengambil tempat di  sajadah paling depan. Ia menoleh padaku, “Ikut sholat yuk, Bun!”

Aku kembali mengangguk dan langsung menuju ke tempat wudhu. Mengambil wudhu dan membasuh airmata haru yang tadi sempat jatuh. Terima kasih ya Allah, mengingatkanku lagi melalui putra kami.

Maghrib itu kami kembali sholat bersama-sama berkat Iman.

Jika Anda tersentuh dengan cerita di atas, tolong “share” cerita ini ke teman-teman yang lain agar mereka juga dapat memetik hikmah yang ada pada cerita di atas. Semoga dapat bermanfaat bagi kehidupan kita, terimakasih.

( Sumber : bundaiin.blogdetik.com )

Speak Your Mind

Tell us what you're thinking...
and oh, if you want a pic to show with your comment, go get a gravatar!

You must be logged in to post a comment.