Wednesday, September 3, 2014

Kisah Ahmadinejad

Pagi ini, seperti biasa, setelah sholat Subuh saya menarik sebuah
buku dari rak dan mulai melakukan ritual keluarga, membaca.

Ada beberapa buku baru yang saya beli beberapa waktu yang lalu dan
beberapa bahkan masih dalam plastik. Melihat judulnya saja saya sudah
tertarik. Salah satunya adalah “Ahmadinejad, David di Tengah Angkara
Goliath Dunia” terbitan Himah Teladan, kelompok Mizan.

Telah agak lama saya tertarik dengan tokoh satu ini. Sepak terjangnya
melawan tekanan Barat dalam masalah nuklir benar-benar membuat saya
penasaran dengan tokoh ini. Salah satu anggota milis CBE juga pernah
menayangkan foto-foto tentang kesederhanaan beliau meski ada yang
meragukan keasliannya. Telah lama rasanya dunia tidak memiliki tokoh
‘David’ macam Ahmadinejad ini. Dunia kita ini sekarang dipenuhi oleh
para pengecut dan tidak memiliki pendirian. Sosok Ahmadinejad
benar-benar seperti seteguk air di tengah sahara. Ketika baru saja
membaca Pengantar yang dituliskan oleh Rosiana Silalahi dari SCTV dan
Bab I tentang awal-awal kiprah Ahmadinejad dalam dunia politik di
Iran tanpa terasa mata saya terasa hangat dan tanpa bisa saya kendalikan air mata saya mengalir. Saya sungguh tidak dapat menahan keharuan saya membaca dan mengetahui betapa sederhananya tokoh dunia satu ini.

Saya terpaksa harus menghentikan membaca buku ini agar tidak larut dalam emosi saya. I’m such a sentimental person. Tapi terus terang saya
memang hidup dalam kerinduan akan tokoh sederhana macam
Nabi Muhammad, Umar bin Chattab, Umar bin Abdul Aziz, Mahatma Gandhi,
Muhammad Hatta, Hidayat Nurwahid (saya pernah bertemu dengannya dan
nampaknya ia sama sentimentalnya dengan saya).

Dan kini ada Ahmadinejad, seorang tokoh in reality! Seberapa
sederhanakah beliau ini? Let me tell you. Berikut ini saya kutipkan
sebagian dari yang saya baca dari buku tersebut. Konon ketika beliau
sudah menjabat sebagai walikota Teheran yang memiliki populasi lebih
besar daripada Jakarta ia masih tampil dengan sepatu yang
bolong-bolong. Ia menyapu jalanan Teheran dan bangga dengan itu.
Sampai sekarang pun ia masih tampil dengan kemeja lengan panjang sederhana sehingga jika kita tidak mengenalnya dan bertemu dengannya kita tidak akan pernah mengira bahwa beliau adalah seorang presiden. Ya presiden dari sebuah negara besar. Di Balikpapan di mana saya tinggal bahkan hampir semua guru rasanya punya jas.

Sebelum menjabat sebagai presiden Iran beliau adalah walikota
Teheran, periode 2003-2005. Teheran, ibukota Iran, kota dengan sejuta
paradoks, memiliki populasi hampir dua kali lipat dari Jakarta, yaitu sebesar 16 juta penduduk. Untuk bisa menjadi walikota dari ibukota negara tentu sudah merupakan prestasi tersendiri mengingat betapa Iran adalah negara yang dikuasai oleh para mullah. Ia bukanlah ulama bersorban, tokoh revolusi, dan karir birokrasinya kurang dari 10 tahun. Beliau tinggal di gang buntu, maniak bola, tak punya sofa di rumahnya, dan kemana-mana dengan mobil Peugeot tahun 1977. Penampilannya sendiri
jauh dari menarik untuk dijadikan gosip, apalagi jadi selebriti.
Rambutnya kusam seperti tidak pernah merasakan sampo dan sepatunya
itu-itu terus, bolong disana-sini, mirip alas kaki tukang sapu
jalanan di belanatara Jakarta. Nah! Kira-kira dengan modal dan penampilan begini apakah ia memiliki kemungkinan untuk menjabat sebagai walikota Depok saja, umpamanya?
Dalam tempo setahun pertanyaan tentang kemampuannya memimpin
terjawab. Warga Teheran menemukan bahwa walikotanya sebagai pejabat yang bangga bisa menyapu sendiri jalan-jalan kota, gatal tangannya jika ada selokan yang mampet dan turun tangan untuk membersihkannya sendiri, menyetir sendiri mobilnya ke kantor dan bekerja hingga dini hari sekedar untuk memastikan bahwa Teheran dapat mejadi lebih nyaman untuk ditinggali.
“Saya bangga bisa menyapu jalanan di Teheran.” Katanya tanpa berusaha
untuk tampil sok sederhana. Di belahan dunia lain sosoknya mungkin
dapat dijadikan reality show atau bahkan aliran kepercayaan baru.
Sejak hari pertama menjabat ia langsung mengadakan kebijakan yang
bersifat religius seperti memisahkan lift bagi laki-laki dan
perempuan (ini tentu menarik hati para wanita di Teheran), menggandakan
pinjaman lunak bagi pasangan muda yang hendak menikah dari 6 juta rial menjadi 12 juta rial, pembagian sup gratis bagi orang miskin setiap pekan,
dan…
menjadikan rumah dinas walikota sebagai museum publik! Ia sendiri
memilih tinggal di rumah pribadinya di kawasan Narmak yang miskin
yang hanya berukuran luas 170 m persegi. Ia bahkan melarang pemberian
sajian pisang bagi tamu walikota mengingat pisang merupakan buah yang
sangat mahal dan bisa berharga 6000 rupiah per bijinya. Ia juga
menunjukkan dirinya sebagai pekerja keras yang sengaja memperpanjang
jam kerjanya agar dapat menerima warga kota yang ingin mengadu.

Namun salah satu keberhasilannya yang dirasakan oleh warga kota
Teheran adalah spesialisasinya sebagai seorang doktor di bidang
manajemen transportasi dan lalu lintas perkotaan. Sekedar untuk
diketahui, kemacetan kota Teheran begitu parahnya sehingga saya
pernah dikirimi salah satu foto lelucon dari berbagai belahan dunia dengan judul “Only in …” . salah satunya dari Teheran dengan judul “Only in Teheran” dengan foto kemacetan lalu lintasnya yang bisa bikin
penduduk Jakarta menertawakan kemacetan lalu lintas di kotanya.
Secara dramatis ia berhasil menekan tingkat kemacetan di Teheran dengan
mencopot lampu-lampu diperempatan jalan besar dan mengubahnya menjadi
jalur putar balik yang sangat efektif.

Setalah menjabat dua tahun sebagai walikota Teheran ia masuk dalam
finalis pemilihan walikota terbaik dunia World Mayor 2005 dari 550
walikota yang masuk nominasi. Hanya sembilan yang dari Asia ,
termasuk Ahamdinejad.

Tapi itu baru awal cerita. Pada tangagl 24 Juni 2005 ia menjadi bahan
pembicaraan seluruh dunia karena berhasil menjadi presiden Iran
setelah mengkanvaskan ulama-cum-mlliter Ali Hashemi Rafsanjani dalam
pemilihan umum. Bagaimana mungkin padahal pada awal kampanye namanya
bahkan tidak masuk hitungan karena yang maju adalah para tokoh yang
memiliki hampir segalanya dibandingkan dengannya? Dalam jajak
pendapat awal kampanye dari delapan calon presiden yang bersaing,
Akbar hasyemi Rafsanjani, Ali Larijani, Ahmadinejad, Mehdi Karrubi, Mohammed Bhager Galibaf, Mohsen Meharalizadeh, Mohsen Rezai, dan Mostafa Min, popularitas Ahmadinejad paling buncit.

Pada masa kampanye ketika para kontestan mengorek sakunya dalam-dalam
untuk menarik perhatian massa , Ahmadinejad bahkan tidak sanggup
untuk mencetak foto-foto dan atributnya sebagai calon presiden. Sebagai
walikota ia menyumbangkan semua gajinya dan hidup dengan gajinya
sebagai dosen. Ia tidak mampu untuk mengeluarkan uang sepeser pun
untuk kampanye! Sebaliknya ia justru menghantam para calon presiden yang menggunakan dana ratusan milyar untuk berkampanye atau yang bagi-bagi uang untuk menarik simpati rakyat.

Pada pemilu putaran pertama keanehan terjadi, Nama Ahmadinejad
menyodok ke tempat ketiga. Di atasnya dua dedengkot politik yang jauh
lebih senior di atasnya, Akbar Hashemi Rafsanjani dan Mahdi Karrubi.
Rafsanjani tetap menjadi favorit untuk memenangi pemilu ini mengingat
reputasi dan tangguhnya mesin politiknya. Tapi rakyat Iran punya
rencana dan harapan lain, Ahmadinejad memenangi pemilu dengan 61 %
sedangkan Rafsanjani hanya 35%. Logika real politik dibikin jungkir
balik olehnya.

Ahmadinejad memang penuh dengan kontroversi. Ia presiden yang tidak
berasal dari mullah yang selama puluhan tahun telah mendominasi
hampir semua pos kekuasaan di Iran , status quo yang sangat dominan. Ia juga bukan berasal dari elit yang dekat dengan kekuasaan, tidak memiliki track-record sebagai politisi, dan hanya memiliki modal asketisme, yang untuk standar Iran pun sudah menyolok. Ia seorang revolusioner sejati sebagaimana halnya dengan Imam Khomeini dengan kedahsyatan aura yang berbeda. Jika Imam Khomeini tampil mistis dan sufistis, Ahamdinejad justru tampil sangat merakyat, mudah dijangkau siapapun, mudah dipahami dan diteladani. Ia adalah sosok Khomeini yang jauh lebih mudah untuk dipahami dan diteladani. Ia adalah figur idola dalam kehidupan nyata.

Seorang ‘satria piningit’ yang mewujud dalam sosok nyata.
Sebagaimana mentornya, ia tidak terpengaruh oleh kekuasaan. Kekuasaan
seolah tidak menyentuh karakter-karakter terdalamnya. Ia seolah
memiliki ‘kepribadian ganda’, di satu sisi ia bisa bertarung keras
untuk merebut dan mengelola kekuasaan, dan di sisi lain ia bertarung
sama kerasnya menolak segenap pengaruh kekuasaan agar tidak
mempengaruhi batinnya. Tidak bisa tidak, dengan karakter yang
demikian kompleks itu seorang revolusioner macam Ahmadinejad memang
ditakdirkan untuk membuat banyak kejutan dan drama pada dunia.
Ia memangkas semua biaya dan fasilitas kedinasan yang tidak
sine-qua-non terutama dengan urusan pribadi. Dalam pandangannya,
untuk mewujudkan masyarakat Islam yang maju dan sejahtera, pejabat negara haruslah memiliki standar hidup yang sama dengan rakyat kebanyakan, mencerminkan kehidupan nyata dari masyarakatnya, dan tidak hidup di menara gading. Ia menetapkan PPN baru bagi orang-orang kaya dan mengunakan dananya untuk membangun perumahan bagi rakyat miskin. Ia
membawa ‘uang minyak ke piring-piring orang miskin’ dengan program
“Reza Love Fund” (Reza adalah Imam ke delapan kaum Syiah) dengan
mengalokasikan 1,3 milyar dollar untuk program bantuan bagi kalangan
muda untuk menikah, memulai usaha baru, dan membeli rumah.
Meski mengagumi Imam Khomeini dan hidup asketis tidak berarti ia
konservatif. Ia bahkan tampil moderat. Ketika ditanya apakah ia akan
mengekang penggunaan jilbab yang kurang Islami di kalangan remaja
Teheran, ia menjawab,: “Orang cenderung berpikir bahwa kembali ke
nilai-nilai revolusioner itu hanya urusan memakai jilbab yang baik.
Masalah sejati bangsa ini adalah lapangan kerja dan perumahan untuk
semua, bukan apa yang harus dipakai.”

Meski telah terpilih menjadi presiden ia sama sekali tidak mengubah
penampilannya. Ia tetap tampil bersahaja dan jauh dari pamor
kepresidenan. Pada salah satu acara dengan kalangan mahasiswa salah
satu peserta menanyakan penampilannya yang tidak menunjukkan tampang
presiden tersebut. Dengan lugas ia menjawab,: “Tapi saya punya
tampang pelayan. Dan saya hanya ingin menjadi pelayan rakyat.” Air mata saya mengalir membaca ini. Subhanallah! Alangkah rendah hatinya pemimpin satu ini. Tak salah jika ia dicintai oleh bagitu banyak mahluk Tuhan di seluruh muka bumi.

Saya tidak ingin menulis lebih panjang tentang tokoh satu ini. Saya
menganjurkan setiap orang untuk membeli bukunya dan membacanya
sendiri dan menikmatinya sebagaimana saya menikmatinya. Belikan satu buku untuk anak Anda dan biarkan ia mengenal satu tokoh besar dunia yang masih hidup dan mudah-mudahan kelak dapat mengikuti jejaknya. Saya
hanya ingin menutup tulisan ini dengan pendapatnya mengapa ia
bersikeras agar Iran memiliki teknologi nuklir. Katanya,:”Jika nuklir
ini dinilai jelek dan kami tidak boleh menguasai dan memilikinya mengapa kalian sebagai negara adikuasa boleh memilikinya? Sebaliknya, jika teknonuklir ini baik untuk kalian, mengapa kami tidak boleh juga memakainya?” Suatu argumen sederhana yang tidak mampu dijawab oleh negara-negara Barat. Itu sebabnya Bush tidak bersedia meladeninya dalam suatu tantangan debat di PB.

Jika Anda tersentuh dengan cerita di atas, tolong “share” cerita ini ke teman-teman yang lain agar mereka juga dapat memetik hikmah yang ada pada cerita di atas. Semoga dapat bermanfaat bagi kehidupan kita, terimakasih.

(sumber: milis st3)

Speak Your Mind

Tell us what you're thinking...
and oh, if you want a pic to show with your comment, go get a gravatar!

You must be logged in to post a comment.