Thursday, October 23, 2014

Ironi di balik Kesuksesan Angry Bird

Cerita ini terjadi pada acara Game Developer Conference di San Fransisco (saya tidak tahu kapan pastinya). Pada saat itu sedang berlangsung acara panel dengan tema “ANGRY BIRDS – An Entertainment Franchise in the Making” yang dibawakan langsung oleh creatornya, Peter Vesterbacka. Hingga sesi Tanya Jawab, seseorang dari peserta konferensi bertanya kepada Peter seperti ini :

Someone : “Hi Peter, could you tell me which physics engine Angy Birds uses?”
Peter : “Box2D”
Someone : “Great. Would you consider giving credit to Box2D in your game?”
Peter : “Yes, of course”
Someone : “Thank you! By the way, I am Erin Catto the creator of Box2D”
Peter : “Great! I would like to talk to you after the session”

Kalau dalam Bahasa Indonesia, kurang lebih seperti ini :

Soeseorang : “Hai Peter, bisa Anda ceritakan physic engine apa yang dipakai Angry Birds?”
Peter : “Box2D”
Seseorang : “Bagus. Apakah Anda mau memberikan credit Box2D ke dalam game in?”
Peter : “Ya, tentu saja bisa”
Seseorang : “Terima kasih! Ngomong-ngomong, Saya Erin Catto pencipta Box2D”
Peter : “Woow! Saya ingin berbicara dengan Anda setelah acara ini”

Ternyata, seseorang tadi adalah pencipta dari physic engine  Box2D. Saya bayangkan bagaimana suasana konferensi saat itu. Dalam bayangan saya pasti semua peserta konferensi memberikan standing applause kepada Erin bahkan sampai terkaget-kaget.

Physic Engine adalah suatu tools berupa kumpulan library yang dibangun dengan c++ dan digunakan untuk melakukan simulasi fisik pergerakan benda yang mengalami kontak dengan benda lain. Diakui Peter, memang game Angry Bird menggunakan Box2D untuk menggambarkan balok-balok yang dihantam oleh Angry Bird sehingga jatuh dan pecah seperti benda nyata yang jatuh karena gravitasi bumi. Selama game Angry Bird ini diproduksi dan menghasilkan jutaan dolar kepada Rovio hingga konferensi itu berlangsung,  Box2D yang selama ini menjadi inti permainannya tidak pernah diakui. Sehingga Erin sendiri yang secara tidak langsung meminta Peter agar cukup memberikan credit saja (bukan royalti) kepada Box2D ciptaannya. Sungguh Ironi…

Bagi Erin, dengan melihat bahwa physic engine yang diciptakannya telah digunakan oleh Game yang terkenal saja sudah cukup membanggakan. Dia tidak meminta yang berlebih atas kesuksesan Angry Bird karena Box2D sendiri memiliki lisensi yang tidak berbayar. Namun secara etika seharusnya Rovio memberikan credit minimal nama Box2D atau Erin ke dalam game itu atau sebagai ucapan terima kasih dari kesukesannya bisa lebih dari sekedar credit. Hal ini sangat disayangkan bagi para pengembang game termasuk saya sebagai pecinta game Angry Bird.

Saat saya tulis blog ini, sekali lagi saya cek credit yang ada di game Angry Bird dan ternyata tidak ada tercantum nama Box2D atau Erin Catto.

Jika Anda tersentuh dengan renungan di atas, tolong “share” renungan ini ke teman-teman yang lain agar mereka juga dapat memetik hikmah yang ada pada cerita di atas. Semoga dapat bermanfaat bagi kehidupan kita, terimakasih.

( Sumber : pyoon.wordpress.com )

Comments

One Response to “Ironi di balik Kesuksesan Angry Bird”
  1. wah keren si erin catto, ikut standing applause juga ane… ^_^

Speak Your Mind

Tell us what you're thinking...
and oh, if you want a pic to show with your comment, go get a gravatar!

You must be logged in to post a comment.